Terkadang, kita terlalu berusaha dengan keras untuk memahami orang lain, sampai lupa memahami diri sendiri. Di tengah tuntutan, ekspektasi, perubahan informasi dan relasi sosial yang begitu cepat. Membaca bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk merefleksikan diri. Kali ini, ada tiga buku yang bisa menjadi teman Sobat Pustaka dalam proses bertumbuh, bukan tentang selalu baik-baik saja, tetapi proses panjang untuk benar-benar menyadari, mengenal, dan memahami diri sendiri.
Dalam proses bertumbuh, ada fase di mana individu perlu menyadari dan menerima. Hal ini sangat terasa dalam “Semoga Kamu Baik-Baik Saja” karya Marcella Viona Legoh, yang menghadirkan ruang untuk menyadari, mengenal dan menerima segala emosi, baik emosi positif maupun emosi negatif. Sebagai manusia seutuhnya, berhak untuk merasakan semua emosi, seperti marah, sedih, kecewa, benci, takut, putus asa, bahagia, nyaman, kagum, cinta, sayang, dan kasih. Dengan semua emosi yang hadir, individu perlahan belajar bahwa tidak ada perasaan yang perlu ditolak atau disembunyikan, melainkan untuk dipahami sebagai bagian dari diri.
Dari proses menerima itu, perlahan akan muncul kesadaran bahwa tidak semua hal harus dikendalikan. Ada titik di mana sebagai manusia mulai belajar untuk melepaskan ekspektasi, penilaian orang lain, dan semua hal yang memang berada di luar kendali dirinya. Proses merasakan terasa dalam “The Let Them Theory” karya Mel Robbins, yang mengajak pembaca untuk berhenti terlalu terikat pada respons eksternal yang sangat susah untuk dikendalikan. Dari sini, manusia sebagai individu mulai mengalihkan fokus pada apa yang bisa dikendalikan, seperti cara berpikir, merespons, dan memaknai pengalaman yang telah terjadi. Dari sini, perlahan terbentuk kemampuan untuk memiliki personal boundaries yang sehat.
Ketika individu sudah mulai mampu menerima dan melepaskan, ada ruang baru yang terbuka, ruang untuk memahami arah hidup. Proses ini tergambarkan dalam “IKIGAI” karya Astusi dan Dian Novandra, yang mengajak pembaca untuk mengenali apa yang disukai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dan apa yang dapat memberikan nilai dalam kehidupan. Proses ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui refleksi yang berulang tentang bagaimana seorang individu memahami potensi dirinya, nilai yang diyakini, dan peran apa yang ingin dijalani. Dari sini , hidup tidak lagi sekadar dijalani, tetapi diarahkan dengan sadar dan bermakna.
Pada akhirnya, ketiga buku ini seperti satu perjalanan yang saling terhubung, berawal dari menerima diri, belajar melepaskan, hingga perlahan menemukan arah. Karena dalam proses bertumbuh, yang paling penting bukan menjadi sempurna, tapi berani untuk terus mengenal diri sendiri.
Penulis: Dewi Octaviani, S.Psi.
Alumni Mahasiswa Psikologi UMP 2026

