Di generasi digital ini, anak muda kerap mendapatkan tekanan dari berbagai arah, mulai dari kehidupan keluarga, pekerjaan, keuangan, sampai percintaan. Efek yang diderita sering kali dimulai dari kelelahan emosional sampai mengakhiri hidup. Karena itu, di dunia digital, literasi sudah banyak sekali informasi mengenai isu kesehatan mental. Salah satunya adalah buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”. Buku dengan judul sederhana ini ternyata berisi ajakan untuk menghargai hal-hal sederhana yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, seperti menikmati seporsi mi ayam sepulang kerja.
Novel fiksi kontemporer ini sangat populer di kalangan anak muda urban sekarang. Ditulis oleh Brian Khrisna (Gramedia,2025), novel ini mengangkat tema kesehatan mental dan depresi, menceritakan kehidupan Ale, pria 37 tahun yang ingin mengakhiri hidup, namun menunda hanya untuk menikmati semangkuk mi ayam terakhir. Dalam karya ini, detail kecil yang disoroti adalah bagaimana cara menjadikan hal-hal kecil sebagai alasan bertahan hidup.
Karakter utama yang di perankan Ale, berhasil membuat pembaca ikut masuk ke dalam kehidupan nya dan menyadari depresi itu nyata. Seperti alur sederhana saat Ale ingin minum obat yang di berikan dokter dan dia mengingat instruksi “Konsumsi setelah makan” yang membuat nya menunda hari dia mengakhiri hidup, fikiran nya tertuju pada semangkuk mie ayam langganan nya, dia bergegas ke warung mie ayam itu dengan kepala di penuhi pikiran, sesampai di sana ternyata melewati banyak tantangan dan proses, seperti tutup nya warung, dan interaksi sederhana dengan penjual mie ayam. Proses sederhana itu ternyata menjadi momen krusial dalam hidup nya untuk memaknai hidup kembali hidupnya.
Buku ini di kemas dengan gaya bahasa yang jujur, satir dan juga di balut dengan komedi kesedihan yang relete dengan generasi saat ini sehingga pembaca akan merasakan buku ini dekat dengan realita apalagi jika sedang sendirian di kota besar untuk bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitulah dunia literasi tumbuh menyesuaikan realita, bukan untuk memvalidasi kesedihan, namun mengajak pembaca kembali melihat kehidupan dengan kesederhanaan, di balik banyak nya ekspektasi kehidupan mewah yang di tampilkan sosial media. (Jul/Ed)
Penulis: Julia Mawaddah
Duta Perpustakaan UMP 2026
Mahasiswa Sastra Inggris FIBK UMP

